Minggu, 10 April 2011

DIKSI ATAU PILIHAN KATA

1. Pengertian Diksi

Diksi adalah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Selain itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu.

Penggunaan ketepatan diksi ini dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan sejumlah kosa kata secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya. Indikator ketepatan pilihan kata ini antara lain:

1). Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan sesuai berdasarkan kaidah bahasa Indonesia.

2). Menghasilkan komunikasi puncak (yang paling efektif) tanpa salah penafsiran atau salah makna.

3). Menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembicara.

4). Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan.

Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menuntut persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.

Syarat-syarat ketepatan pilihan kata atau diksi:

  1. Membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat, denotasi yaitu kata yang bermakna lugas dan tidak bermakna ganda. Konotasi dapat menimbulkan makna yang bermacam-macam, lazim digunakan dalam pergaulan, untuk tujuan estetika, dan kesopanan.
  2. Membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim. Kata yang hampir bersinonim, misalnya: adalah, ialah, yaitu, merupakan, dalam pemakaiannya berbeda-beda.
  3. Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya inferensi (kesimpulan) dan interferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh, bunting) dan syarat (ketentuan).
  4. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapatnya sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan. Pemakai kata harus menemukan makna yang tepat di dalam kamus, misalnya: modern sering diartikan secara subjektif canggih. Menurut kamus, modern berarti terbaru atau mutakhir; canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui, bergaya intelektual.
  5. Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya koordinasi.
  6. Menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar, misalnya sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.
  7. Menggunakan kata umum dan kata khusus secara cermat. Untuk mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus, misalnya; mobil (kata umum) corolla (kata khusus, sedan buatan Toyota).
  8. Menggunakan dengan cermat kata yang bersinonim (misalnya pria dan laki-laki, saya dan aku, serta buku dan kitab); berhomofon (misalnya: bang dan bank); dan berhomografi (misalnya apel buah, apel upacara).
  9. Menggunakan kata abstrak dan kata kongkret secara cermat, kata abstrak (konseptual, misalnya pendidikan, wirausaha, dan pengobatan modern) dan kata konkret atau kata khusus (misalnya: mangga, sarapan, dan berenang).

Selain ketepatan pilihan kata, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian kata agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan atau suasana yang sedang berlangsung. Syarat kesesuaian kata adalah:

  1. Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak memcampuradukkan penggunaanya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan, misalnya hakikat (baku), hakekat (tidak baku), konduite (baku) kondite (tidak baku).
  2. Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat, misalnya kencing (kurang sopan) dan buang air kecil (lebih sopan), pelacur (kasar) dan tunasusila (lebih halus).
  3. Menggunakan kata berpasangan (idiomatik) dan berlawanan makna dengan cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya... melainkan juga (benar), bukan hanya ... tetapi juga (salah), tidak hanya ... tetapi juga (benar).
  4. Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: berjalan lambat, mengesot, dan merangkak; merah darah, merah hati.
  5. Menghindarkan penggunaan ragam lisan (pergaulan) dalam bahasa tulis, misalnya: tulis, baca, kerja (bahasa lisan) à menulis, menuliskan, membaca, membacakan, bekerja, mengerjakan, dikerjakan (bahasa tulis).

2. Kesalahan Diksi dalam Kalimat

Di dalam kenyataannya tidak sedikit ditemukan kalimat tidak gramatikal yang disebabkan oleh penggunaan kata/pemilihan kata secara tidak tepat. Di dalam penyusunan kalimat diperlukan kecermatan dalam memilih kata supaya kalimat yang dihasilkan memenuhi syarat sebagai kalimat yang benar. Jadi, kesalahan diksi ini meliputi kesalahan kalimat yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan kata. Berikut dikemukakan beberapa kesalahan diksi yang ada dalam kalimat.

2.1 Pemakaian Kata yang tidak Tepat

Ada beberapa kata yang digunakan secara tidak tepat. Kata dari dan daripada sering digunakan secara tidak tepat. Contoh:

- Hasil daripada penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha.

- Hasil penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha.

Kalimat di atas seharusnya tanpa kata daripada karena kata daripada digunakan untuk membandingkan dua hal. Misalnya, tulisan itu lebih baik daripada tulisan saya. Di dalam kalimat berikut pun terdapat kesalahan diksi, yaitu:

- Sebagian dari kekayaan pengusaha itu diserahkan kepada yayasan yatim piatu.

2.2 Penggunaan Kata Berpasangan

Ada sejumlah kata yang penggunaanya berpasangan (disebut juga konjungsi korelatif), seperti baik ... maupun..., bukan ... melainkan ..., tidak ... tetapi..., antara ... dan .... Di dalam contoh berikut dikemukakan pemakaian kata berpasangan secara tidak tepat.

- Baik pedagang ataupun konsonan masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli.

- Bukan harga sembilan bahan pokok yang mengalami kenaikan harga tetapi harga produk yang menggunakan bahan baku impor

- Sebagian pedagang tidak menaikkan harga melainkan menimbun sebagian barang dagangannya sampai ada ketentuan beberapa persen kenaikan harga dapat dilakukan.

- Antara kemauan konsumen dengan kemauan pedagang terdapat perbedaan dalam penentuan kenaikan harga.

Perbaikan kalimat di atas:

- Baik pedagang maupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga tidak terjadi transaksi jual beli.

- Bukan harga sembilan bahan pokok yang mengalami kenaikan melainkan hasil produksi yang menggunakan bahan bakar impor.

- Sebagian pedagang tidak menaikkan harga tetapi menimbun sebagian barang dagangannya sampai ada ketentuan berapa persen kenaikan harga dapat dilakukan.

- Antara kemauan konsumen dan kemauan pedagang terdapat perbedaan dalam penentuan harga.

2.3 Penggunaan Dua Kata

Di dalam kenyataan terdapat penggunaan dua kata yang makna dan fungsinya kurang lebih sama. Penggunaan dua kata secara serentak ini tidak efisien. Kata-kata yang sering dipakai secara serentak itu, bahkan paad posisi yang sama, antara lain ialah adalah merupakan, agar supaya, demi untuk, seperti misalnya, atau daftar nama-nama. Contoh:

- Peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia adalah merupakan kewajiban kita semua.

- Agar supaya kita dapat mencapai hasil yang baik, marilah kita bermusyawarah dulu.

- Mulai sekarang marilah kita tingkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia demi untuk masa depan bangsa Indonesia.

- Peningkatan mutu tersebut memerlukan keterlibatan para ahli dalam berbagai bidang, seperti misalnya ahli kedokteran, ahli pendidikan, ahli komunikasi, dan lain-lain.

- Bersama surat ini saya lampirkan daftar nama-nama calon peserta penataran guru.

Perbaikan kalimat di atas adalah:

- Peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia adalah kewajiban kita semua.

- Peningkatan mutu penggunaan bahasa indonesia merupakan kewajiban kita semua.

- Agar kita dapat mencapai hasil yang baik, marilah kita bermusyawarah dulu.

- Supaya kita dapat mencapai hasil yang baik, marilah kita bermusyawarah dulu.

- Mulai sekarang marilah kita tingkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia demi masa depan bangsa Indonesia.

- Mulai sekarang marilah kita tingkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia untuk masa depan bangsa Indonesia.

2.4 Penghubung Antarkalimat dan Kata Maka

Kata maka sering menyertai ungkapan penghubung antarkalimat, seperti sehubungan dengan itu maka, oleh karena itu maka, dengan demikian maka, dan jika demikian maka. Sebagaimana pada contoh-contoh berikut ini:

- Sehubungan dengan itu maka suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya terandalkan.

- Oleh karena itu maka perencanaan penelitian harus disusun berdasarkan obsevasi lapangan.

- Dengan demikian maka rencana yang disusun dapat dilaksanakan dengan baik.

- Jika demikian maka penelitian tidak akan menemukan hambatan.

Contoh kalimat di atas banyak terdapat dalam ragam bahasa lisan. Kata maka pada kalimat-kalimat itu ditiadakan dan digunakan tanda koma karena kata maka tidak menyandang fungsi, atau unsur penghubung antarkalimat itu ditiadakan sehingga kata maka menjadi penghubung antarkalimat; dan susunan kalimat menjadi gramatikal.

2.5 Peniadaan Preposisi

Di dalam kenyataan penggunaan bahasa, orang sering tidak menyatakan unsur preposisi yang menyertai verba. Verba yang disertai preposisi itu kebanyakan berupa verba intransitif. Berikut dikemukakan beberapa contoh verba tanpa preposisi.

- Mereka pergi luar kota beberapa hari yang lalu.

- Mahasiswa di kelas ini terdiri 20 pria dan 25 wanita.

- Jumlah itu sesuai keadaan dan fasilitas yang tersedia.

- Penambahan daya tampung tergantung fasilitas yang tersedia.

- Kami tertarik kebijakan pimpinan fakultas dalam menangani meluapnya calon mahasiswa baru.

Verba pengisi predikat kalimat-kalimat tersebut perlu dilengkapi dengan preposisi sehingga menjadi lebih jelas pertalian maknanya dan kalimat di atas menjadi gramatikal.

- Mereka pergi ke luar kota beberapa hari yang lalu.

- Mahasiswa di kelas ini terdiri atas 20 pria dan 25 wanita.

- Jumlah itu sesuai dengan keadaan dan fasilitas yang tersedia.

- Penambahan daya tampung tergantung pada fasilitas belajar.

- Kami tertarik pada kebijakan pemimpin fakultas dalam menangani meluapnya calon mahasiswa baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar